“Menjemput Impian”
LOMBOK...Aku pasti kembali !
Tak ada dingin tak ada mendung, tak ada panas tak ada terik,
apapun akibatnya pasti ada sebabnya. Itulah salah satu kalimat yang cocok untuk
menggambarkan proses keberangkatanku ke Pulau Lombok. Satu hal lagi yang perlu
diingat, tak ada misi tak ada tujuan, tak ada mimpi tak akan ada keberangkatan !
Lelucon Malang – Bali
Tak hanya sendiri, aku ditemani dua
orang teman laki-lakiku yang sehobby denganku. Mereka sudah bekerja dan menjadi
pendaki freelancer juga sepertiku. Akhirnya kami bertiga berangkat, AKU nyaii,
Wakwak alias Dulhaq, dan Cak Kaboel alias Maulana. Kami mengawali perjalanan
Malang-Mataram dari pukul 19.00 WIB. Sebelum berangkat, kami bertiga memutuskan
untuk sempatkan makan diterminal dekat pos kami menyinggahkan barang. Lalu, selesai
kami makan, salahsatu kawan kami Cak Kaboel mengeluarkan segerumbul recehan
demi recehan yang ternyata telah ia persiapkan jauh-jauh dari rumah. Aku dan
wakwak sontak bertanya, “buat apa mas?” Udah, tenang aja jawabnya, aku mau
ngehabisin recehan ini biar gak mberat-mberatin isi carrier’ku.
“hahaha...sontak kami berdua tertawa tiada henti, ternyata recehan yang
dikeluarkan itu sengaja untuk membayar makanan kami betiga tadi, sungguh awal
kebersamaan yang tiada duanya. (Meski sempet diketawain orang yang makan
disebelah sih).
Padang Bai – Lembar Mataram
Tepat pukul 12.00 WITA kami bertiga sampai
di Pelabuhan Padang Bai, Bali. Panas terik matahari yang menyengat tak kami
rasakan sedikitpun, rasa lelah dan kantuk yang mulai menggerogoti tubuh, kami
buang jauh-jauh. Dari bis kami langsung bergegas turun, tak sabar kami melihat
pemandangan dermaga yang masih terasa asing buat kami.
Disela kami bertiga menaiki kapal
feri yang disuguhi kemolekan selat lembar dengan pulau-pulau kecil
disekitarnya, kami dipertemukan oleh kawanan pendaki dari Palembang, mereka
berenam, sedangkan kami dari Malang hanya bertiga. Bagiku tak ada masalah,
tetap maju terus pantang mundur ! Sebetulnya, keberangkatan ini relatif
molor dibandingkan dengan biasanya. Padahal, yang kuprediksi tepat pukul 12.00
WITA kami sudah menginjakkan kaki di Pulau yang super pedas itu, tapi ternyata
apa boleh buat jam segini kami masih juga terdampar di Padang Bai. Tapi
asik...seru banget sih, disinilah terasa seninya, lagipula kami jadi betemu
dengan banyak kawanan pendaki dari seluruh nusantara.
Kedatangan kami tiba-tiba disambut hangat
oleh keluarga Wiwid, temanku satu Kampus. Kami dijemput oleh Om Agus, Bapak
dari Wiwid, beliau baik sekali, sesampainya kami di Mataram, kami langsung
disuguhkan kuliner khas Lombok punya, yaitu Ayam taliwang, Plecing kangkung,
dan Beberuk. Hmm...lezaaatnyaaa, makanan ini bener-bener bikin aku harus balik
lagi ke Lombok suatu hari nanti. Meskipun dengan mengandalkan mobil pick up
seadanya, kami betiga sangat bahagia. Kedua kawanku dibelakang sungguh tampak
menikmati perjalanannya ketika mereka dihadapkan pada kenyataan, hey...kita
sudah di Lombok, itu bukan sekedar kata main-main lagi, rasanya masih seperti
"unbelieveble" percaya nggak percaya. (Dalam batin kami bertiga)
Sesampainya kami di wiwid’s home,
kami bertemu tante cantik, yaitu mami wiwid. Mami sangat cantik, beliau tampak
awet muda sekali tak sebanding dengan usia yang sudah beliau miliki, jadi bikin
ngiri mam...hehe. kami banyak mengobrol seputar petualangan sampai masalah
putranya, ya wiwid tadi...dasaarr playboy cap kambing kata maminya, hahaha...
Kami putuskan untuk bermalam
sementara disini, untuk beristirahat sejenak dan memulai perjalanan kembali
esok dini hari. Kami cuma punya waktu 3 jam untuk tidur, dan harus bangun lagi
pukul 00.00 WITA untuk bersiap-siap packing menuju Sembalun. Perjalanan Mataram-Sembalun
tidaklah dekat, butuh waktu sekitar 4-5 jam untuk dapat sampai disana.
Dingin yang sangat menggerogoti tubuh
kami bertiga, bukanlah main-main. Kecuali om Agus yang sudah terbiasa dengan
cuaca disana. Disela-sela perjalanan dari Aikmal kami disuguhkan kembali
panorama indah bulan purnama tepat di depan mata kami bertiga, sungguh luar
biasa. Bisa dibilang itu bonus untuk sambutan kedatangan kami di Tanah Sasak
tersebut, it’s so amazing !!!
Sebelum kami menginjak tanah
sembalun, kami sengaja diberhentikan ditengah hutan, tepat diatas bukit oleh om
Agus, tujuannya untuk aklimatisasi dan latihan mental sementara serta
penyesuaian diri terhadap situasi alam Gunung Rinjani. Om agus merasakan adanya
kedatangan serta sambutan baik dari para penghuni alam Rinjani, Alhamdulillah
keberangkatan kami bertiga mendapatkan pertanda baik rupanya. Tepat pukul 04.30
WITA kami sampai di Sembalun, dimana itu merupakan daerah pos perijinan
pendakian pertama Gn.Rinjani. Adapula jalur lain selain Sembalun, yaitu Senaru
dan Timbanuh.
Sembalun - Plawangan
Setelah kami bertiga menunaikan
sholat subuh, kami bergegas untuk mengepack carrier kami kembali, supaya
diwaktu tracking kami merasa nyaman dengan barang bawaan kami sendiri.
Sebelumnya kami juga berdoa untuk dapat diberikan keselamatan sampai puncak dan
kembali pulang dalam keadaan sehat dan kami mulai start dari Sembalun tepat
pukul 08.00 WITA.
Jalur Torean – Sembalun adalah track
terpanjang karena melewati berpuluh-puluh bukit dan padang savana yang bisa
dibilang sangat panas. Bukit yang sangat dinanti dan juga ditakuti yaitu Bukit
Penyesalan, disana kita akan melewati ratusan tanjakan yang sungguh menantang
dan menggelikan, rasanya seperti kita sudah dekat dengan puncak bukit, tapi
nyatanya kita selalu tertipu dan selalu menyesal akan jalur itu, itulah
sebabnya kenapa dinamakan bukit penyesalan. Setelah perjalanan panjang dan
melelahkan kami lewati, tiba-tiba salah satu kawan kami wakwak mengalami kram
otot, dan kakinya terkilir. Tapi dia tetap memilih untuk memaksakan diri pada
awalnya, tetapi pada saat dititik puncak pertengahan menuju pos 3, wakwak sudah
tak sanggup untuk menopang beban seberat itu, akhirnya kami putuskan untuk
menyewa jasa porter sampai pos 3 dan mendirikan camp disana. Sesampainya disana
kami langsung mendirikan camp, dan siap-siap memasak untuk makan malam,
kebetulan kali ini bagianku dengan wakwak dulu. Cak Kaboel masih sibuk
membenahi kondisi tenda dan merapikan barang-barang kami. Akupun tak luput
melakukan aktivitas rutinanku yang slalu kubawa kemana-mana ketika aku melakukan
suatu perjalanan, yaitu menulis, hanya bermodalkan pena dan note seadanya aku
bisa menggambarkan dan menceritakan pahit-manisnya perjalananku.
Esok paginya, kami melanjutkan
perjalanan kembali untuk menyusuri bukit dan tanjakan kembali, sungguh luar
biasa tracking kali ini. Satu per satu bukit sudah kami lalui dan akhirnya kami
sampai dibukit yang dinanti-nanti yaitu Bukit Penyesalan. Sekilas nampak
dinanti tapi kalau sudah dirasain, alamat kalian bisa bilang...Sumpah, nyesel
kali aku lewat sini!!! Disinilah terasa seni perjuangan mendaki Puncak Agung
Rinjani, begitu tak mudah, kita dihadapkan medan bintang lima, tracking apapun
lengkap disini, buktikan saja!
Setelah melewati beberapa medan yang
sungguh menanjak minta ampun, perlahan akhirnya kami sampai di puncak bukit
inilah yang dinamakan Plawangan, disini kita sudah bisa melihat panorama
keelokan Gunung Rinjani dengan Segara anaknya. Kami betemu dengan kawanan bule
dari amerika dan jamaica, he’s name is Joe and Mark. Ada juga kawanan dari
Mataram sendiri, mereka datang bergerombol dari UNRAM.
Camp kedua kami ada di Plawangan,
beserta jajaran rombongan bule-bule Eropa, Amerika, Jepang, dan Malaysia. Beberapa
kawanan dari nusantara pun ikut memenuhi camp area plawangan tersebut. Sempat
kakiku terasa ngilu sekali malam itu, tapi semua tak kurasakan, hanya motivasi
tinggi yang membuatku terus kuat dan bertahan, aku yakin bisa!
Plawangan – Puncak Rinjani
Pukul 02.30 WITA kami semua memulai
pendakian bersama menuju Puncak Rinjani. Diawali dengan do’a bersama untuk
memohon keselamatan dan bisa bersama-sama sampai di Puncak Kemenangan. Ternyata
medan payah tak hanya terjadi dipersimpangan keberangkatan kami menuju
Plawangan, masih jauh lebih ekstrem dan menantang disini. Mulai dari medan
menanjak, jurang, bebatuan, kerikil tajam, landai, sampai pasir panas berdebu,
smua ada disini...bener-bener KOMPLIT BINTANG LIMA!!!
Tepat pukul 05.00 WITA kami masih
juga belum sampai puncak, ternyata jauhnya masya’allah.... Jauhnya tak seperti
yang kami bayangkan ternyata, untuk menempuh Puncak Rinjani dalam waktu
singkat, itu impossible!
Panorama elok matahari terbit Rinjani
kami saksikan dipertengahan jalan, pelan-pelan segara anak pun mulai
menampakkan kemolekannya. Subhanallah....Alamku, sungguh luar biasa!!! Kuhirup
udara segar pagi Rinjani, kuhembuskan perlahan nafas-nafas kehidupan yang
sebentar lagi kuraih. Medan pasir yang terus menghampiriku, dan debu-debu beterbangan
menyapaku, semua beradu jadi satu. “Up
one Down Three” istilah dari naik satu, turun tiga. Kalimat yang sangat
cocok untuk menggambarkan situasi pendaki yang sudah merasakan itu.
Salah satu bule yang sudah manula ini
tampak begitu semangat untuk dapat terus menaiki tanjakan pasir, meski begitu
berat ia tampak menikmatinya. Medan pasir ini sungguh-sunguh sempat membuatku
pesimis dan menyerah seketika. Batinku terus bertanya-tanya “Apakah aku sanggup
sampai di Puncak KemenanganMu, ya Allah?”, sempat nafasku naik-turun, hidungku
sudah mulai memerah karna debu, kakiku gempor karna setiap kali naik, harus
turun tiga dan itu selalu.
(Ya Ampuun)
Tak berhenti sedikitpun aku untuk
memuja kebesaran-Mu ya Allah...ini BUKTI NYATA bukan lagi ILUSI apalagi
MIMPI. Kedua rekan seperjuanganku terus merangkulku, mencoba membuka mata akan
suatu kenyataan yang sudah kami hadapi, saat ini dengan rasa yang begitu
mengharu-biru. SUBHANALLAH ... ini bukan lagi mimpi kawan, tapi ini nyata, ambisi
yang begitu besar yang membawa kita ke "Puncak Impian", kawan. (Tetesan Haru)
Segara Anak, Rinjani
Tepat hari kamis, tanggal 15 juli
2011 pukul 17.00 WITA kami berhasil menuruni bukit berbatu serta dikelilingi
jurang disampingnya, alhamdulillah kami sampai di Segara Anak, tempat tujuan
terakhir kami dalam pendakian ini. Suara gemuruh beberapa rombongan,
porter-porter serta diesel yang menghiasi heningnya segara anak, menjadi
sambutan hangat untuk kami sesampainya disana. Tujuan kami kesini, untuk
menghadiri undangan dari Tim Jejak Petualang Trans7 untuk ikut serta meramaikan
acara JAMBORE ke IV Jejak Petualang. "when u pay peanuts u get monkey"...ada
harga ada MUTU!!! Ada kerja keras ada hasil donk pastinya, semua butuh proses,
butuh ekstra sabar untuk dapat melalui sakit, begitu pula naik gunung, gada
istilah “Enak” dalam pendakian, yang ada “Sakit”, “Pegel”, dan seterusnya.
Tapi, inilah fakta gada harga yang bisa dibayar melebihi satu “Kepuasan” !!!
Tepatnya Hari ini, Jumat 16 Juli 2011
kami semua melaksanakan upacara bendera menyambut HUT-RI pada event JAMBORE
JEPE ke-IV edisi “Ekspedisi Rinjani”. Acara jambore diawali dengan upacara yang
dibuka oleh Putri Ayudya selaku presenter JP, dan inspektur upacara Tyo JP
SURVIVAL, selanjutnya acara dilanjutkan dengan games-games seru dari CREW JEPE.
Beberapa dokumentasi terus
diabadikan, teriyakan semangat masing-masing regu semakin menggema, ditambah
lagi dengan seruan-seruan membara dari para presenter JEPE yang semakin
menambah kesemarakan acara tersebut, Wmm...Sungguh luar biasa!
Kebetulan aku dan kedua kawanku
berada di regu yang sama, yaitu regu dua. Yang dipelopori oleh Indrayani
Laksmie, dan yang menjadi koordinator tim waktu itu kebetulan kawan kami
sendiri, Cak Kaboel Kelana. Pertarungan demi pertarungan kami lalui dengan
apik, tapi masih ada satu rival yang bener-bener susah banget buat ditandingin
yaitu regu satu, regunya mas Tyo tuh! Setelah pertarungan sengit berakhir,
dan hanya regu dua dan regu satu yang berhasil memasuki final, dan tetap saja
Juara1 jatuh pada regunya mas Tyo...agak setengah nggak terima sih sbenernya,
tapi yah sudahlah regu kami sesuai dengan namanya berhasil menduduki posisi
kedua setelah regu satu. (Masih nggak terima)
Nggak ada salahnya juga donk, kami
mengabadikan moment bersama. Moment dimana kami menjadi satu tim dengan
Indrayani Laksmie, seru...lucu...pokoknya gokiiiilll abiiiiisss !!!
Dan Terimakasih "RINJANI" kau telah membuatku jatuh hati !
Dan Terimakasih "RINJANI" kau telah membuatku jatuh hati !
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar